• Komite Ekonomi dan Industri Nasional

Benny Pasaribu

Dr. Ir. Benny Pasaribu, MEc., sering dipanggil Bang Ben– lahir di Medan 53 tahun yang lalu, anak dari Bapak W. Pasaribu, mantan Guru SMP Nasrani, Medan, dan ibu M. br Sinaga. Setelah berusia 3 tahun, sejak ayah meninggal, bang Ben menghabiskan masa kecilnya secara berpindah-pindah untuk melanjutkan sekolah mulai dari SD dan SMP di Sianjur Mula-Mula Kabupaten Samosir, kemudian ke SMA Beringin Galang Kabupaten Deli Serdang dan di SMA BTB Balige Kabupaten Toba Samosir.

Setelah lulus SMA pada tahun 1976, Bang Ben diterima sebagai mahasiswa pertanian di IPB Bogor tanpa melalui test. Berkat ketekunan dan prestasi kuliahnya, Bang Ben memperoleh beasiswa dari Ford Foundation dan Yayasan Supersemar, dan menjadi Asisten Dosen hingga lulus pada tahun 1980. Selama masa kuliah, Bang Ben aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi kemahasiswaan. Pada tahun 1978 Bang Ben terpilih menjadi Ketua Umum Himpunan MISETA (Perhimpunan Mahasiswa Peminat Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian). Pada tahun 1979, Bang Ben, atas nama Miseta menandatangani kerjasama dengan Bulog, dan ikut aktif sebagai Satgas Bulog menjaga harga gabah pada saat panen raya dan tinggal bersama petani dan pengurus KUD di 5 Kabupaten (Bekasi, Karawang, Subang, Purwakarta dan Indramayu) hingga tahun 1981.

Setelah wisuda sebagai Sarjana Ekonomi Pertanian pada awal tahun 1981, Bang Ben diterima sebagai Staf Khusus Menteri Muda Koperasi/ Kepala Bulog. Dan selanjutnya, pada bulan Mei 1981, ditempatkan sebagai Direktur Utama PUSKUD (Pusat KUD) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) di Medan. Selama tahun 1981-1983, peranan PUSKUD dan KUD/Koperasi di Sumatera Utara mengalami kemajuan yang sangat signifikan. Bang Ben berinisiatif dan berhasil memperjuangkan anggaran untuk membangun Gudang, Lantai Jemur, dan Kios (GLK) kepada Menteri Koperasi dan Menteri Keuangan RI. Sampai saat ini GLK tersebut masih berdiri (walau banyak tidak difungsikan lagi) di hampir semua KUD, setidaknya 1 unit tiap Kecamatan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir menghadapi musim paceklik dan menjual hasil produksinya pada saat panen. Selain itu, PUSKUD dan KUD mulai menangani sendiri usaha pembelian cengkeh, gabah, sayur mayur dari petani, menyalurkan kredit usahatani dari BRI kepada petani dengan tunggakan kredit di bawah 5 persen, dan usaha simpan pinjam di sejumlah KUD/ Koperasi. Bahkan Puskud dan KUD berhasil menjaga stabilitas harga pupuk dan kebutuhan pokok masyarakat di Sumut karena berhasil menyalurkan lebih 90% dari kebutuhan pupuk petani dan memasok gabah petani hingga lebih 90% dari total pengadaan DOLOG Sumut.

Setelah wisuda sebagai Sarjana Ekonomi Pertanian pada awal tahun 1981, Bang Ben diterima sebagai Staf Khusus Menteri Muda Koperasi/ Kepala Bulog. Dan selanjutnya, pada bulan Mei 1981, ditempatkan sebagai Direktur Utama PUSKUD (Pusat KUD) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) di Medan. Selama tahun 1981-1983, peranan PUSKUD dan KUD/Koperasi di Sumatera Utara mengalami kemajuan yang sangat signifikan. Bang Ben berinisiatif dan berhasil memperjuangkan anggaran untuk membangun Gudang, Lantai Jemur, dan Kios (GLK) kepada Menteri Koperasi dan Menteri Keuangan RI. Sampai saat ini GLK tersebut masih berdiri (walau banyak tidak difungsikan lagi) di hampir semua KUD, setidaknya 1 unit tiap Kecamatan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir menghadapi musim paceklik dan menjual hasil produksinya pada saat panen. Selain itu, PUSKUD dan KUD mulai menangani sendiri usaha pembelian cengkeh, gabah, sayur mayur dari petani, menyalurkan kredit usahatani dari BRI kepada petani dengan tunggakan kredit di bawah 5 persen, dan usaha simpan pinjam di sejumlah KUD/ Koperasi. Bahkan Puskud dan KUD berhasil menjaga stabilitas harga pupuk dan kebutuhan pokok masyarakat di Sumut karena berhasil menyalurkan lebih 90% dari kebutuhan pupuk petani dan memasok gabah petani hingga lebih 90% dari total pengadaan DOLOG Sumut.

Pada tahun 1984, Bang Ben menikah dengan T. Suriaty Simatupang, puteri pertama dari Bapak Drs. MB. Simatupang (Alm.), dosen IKIP Medan, dan Ibu T. Br Sibarani. Kami diberkati dengan seorang putera bernama Pangeran Vernon (saat ini telah berusia 27 tahun, lulus S-2, telah bekerja, berumah tangga, dan memiliki seorang anak bernama Benetta Shannon). Selama tahun 1984-1987, Bang Ben tinggal di Jakarta dan bekerja sebagai pejabat di Biro Perencanaan, Departemen Koperasi.

Kemudian, pada tahun 1988 Bang Ben berangkat ke Amerika Serikat dengan beasiswa dari USAID untuk melanjutkan kuliah program S-2 (Ekonomi) di Williams College, Massachusetts, Amerika Serikat dan berhasil lulus pada tahun 1989. Bang Ben pindah ke Kanada mengambil program S-3 dengan memperoleh beasiswa dari CIDA di Ottawa University, Kanada, dengan spesialisasi di bidang Ekonomi Industri (Industrial Organization) dan Perdagangan Internasional (International Trade). Selain kuliah, Bang Ben bekerja sebagai asisten dosen (tahun 1990-1993) dan kemudian sebagai dosen (tahun 1994-1995) di Departemen Ekonomi, Universitas Ottawa. Diluar kampus, pada tahun 1991 Bang Ben terpilih sebagai Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Kanada, dan pada tahun 1992 berhasil menyelenggarakan Kongres I mahasiswa Indonesia di Ottawa. Pada akhir tahun 1995, Bang Ben dapat menyelesaikan program S-3 setelah mempertahankan tesis berjudul “Industrial and Trade Policies: A Multisectoral Analysis with Increasing Returns to Scale and Imperfect Competition”. Tesis ini merumuskan sebuah model ekonomi negara dengan menggunakan computable general equilibrium (CGE) yang dapat digunakan untuk memilih kebijakan ekonomi yang tepat bagi peningkatan kemakmuran yang berkeadilan.

Setelah kembali ke Indonesia pada akhir tahun 1995 Bang Ben diangkat sebagai Wakil Koordinator Tim Asistensi Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil (Kop & PPK). Dan pada tahun 1998 Bang Ben dilantik menjadi Kepala Biro Perencanaan Departemen Kop & PPK. Sebagai Kepala Biro Perencanaan, bang Ben berhasil membangun sistem perencanaan dengan paradigma baru, yakni bottom up planning, perencanaan yang disusun mulai dari level paling bawah: koperasi primer (KUD/Kop), UKM, dengan melibatkan perguruan tinggi lokal, LSM, dan tokoh masyarakat. Bang Ben yakin konsep perencanaan ini jauh lebih realistis dan komprehensif karena mampu mengakomodasi seluruh kepentingan stakeholders. Seiring dengan bergulirnya reformasi, pada bulan Oktober 1999, Bang Ben terpilih menjadi Anggota DPR/MPR RI periode 1999-2004 dari daerah pemilihan Labuhan Batu. Namun setelah pembentukan Kabinet Gus Dur dan Ibu Megawati, Bang Ben dipercaya menjadi Deputi Menteri BUMN dan Penanaman Modal Bidang Pertambangan, Energi, Telekomunikasi, dan industri Strategis. Selama menjabat Deputi Menteri, Bang Ben ikut aktif menyusun tatacara yang baru pemilihan Direksi melalui fit and proper test guna menghindari praktek KKN.Pada tahun 1984, Bang Ben menikah dengan T. Suriaty Simatupang, puteri pertama dari Bapak Drs. MB. Simatupang (Alm.), dosen IKIP Medan, dan Ibu T. Br Sibarani. Kami diberkati dengan seorang putera bernama Pangeran Vernon (saat ini telah berusia 27 tahun, lulus S-2, telah bekerja, berumah tangga, dan memiliki seorang anak bernama Benetta Shannon). Selama tahun 1984-1987, Bang Ben tinggal di Jakarta dan bekerja sebagai pejabat di Biro Perencanaan, Departemen Koperasi.

Dari semua perjalanan karier dan pengalamannya, baik sebagai Birokrat, Pengajar, Politisi, Olahragawan, Pelaku Usaha, dan Pimpinan Organisasi Masyarakat Sipil, Bang Ben banyak memetik pelajaran berharga menyangkut pentingnya menjaga kualitas kepribadian, antara lain: integritas, kepedulian, dan Team Work. Dengan integritas berarti kita harus bekerja keras dengan tulus, jujur, BERSIH tanpa pamrih. Kita harus memiliki prinsip “satunya kata dengan perbuatan”. Demikian juga dengan kepedulian. Negara harus lebih peduli dan berpihak kepada warga masyarakat yang tertinggal dan lemah. Itulah sebabnya Bang Ben selalu PEDULI dan aktif mendorong usaha koperasi dan UKM, membela petani, peternak, nelayan, buruh, pengrajin dan pedagang pasar. Team Work juga sangat penting. Negara bisa maju kalau dibangun bersama-sama. Setiap anggota Tim harus dapat menghargai kelebihan dan kekurangan anggota lainnya. Perbedaan pendapat harus dihargai, bukan dimusuhi. Setiap anggota Tim harus bekerja secara kolegial dan sinergis memberikan kontribusi terbaik sesuai dengan keahlian masing-masing, tidak boleh menjadi free rider atau berhianat terhadap keutuhan Tim. Keberhasilan adalah milik bersama. Riwayat Hidup ini disusun dengan sebenar-benarnya. Apabila ada kekeliruan akan diperbaiki sebagaimana mestinya.